Podcast Fikrah & Hujjah siri 39
Ahli Panel : Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA (Mufti Kerajaan Negeri Perlis), Prof. Dr. Rozaimi Ramle (AJK Fatwa Negeri Perlis), Ust. Rizal (Moderator)
Podcast Fikrah & Hujjah siri 39
Ahli Panel : Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA (Mufti Kerajaan Negeri Perlis), Prof. Dr. Rozaimi Ramle (AJK Fatwa Negeri Perlis), Ust. Rizal (Moderator)
Tadzkirah menjelang bulan Ramadhan 1446 H / 2025
Oleh:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti
Kerajaan Negeri Perlis
"المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله"
Mujahid (pejuang) yang sejati adalah orang yang berjihad melawan
dirinya sendiri dalam ketaatan kepada Allah. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, hasan)
Dalam ceramah ini, dibahas bagaimana jihad terbesar dimulai dari dalam diri kita: melawan kemalasan, hawa nafsu, dan godaan yang menjauhkan kita dari Allah ﷻ. Mari kita simak dan amalkan bersama!
Jahil
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ
عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka.”
Dalam dunia yang dipenuhi dengan kesombongan, manusia sering kali lupa
bahwa ada kekuatan yang tak terhingga di atas segala sesuatu: kekuasaan
Allah. Tragedi yang melanda Los Angeles baru-baru ini adalah tamparan
keras bagi dunia yang selama ini menjadikan Amerika sebagai simbol
kekuatan, kekayaan, dan keangkuhan. Dua hari. Hanya dua hari yang
dibutuhkan untuk mengubah kota terkaya di Amerika menjadi puing-puing tak
berharga. Hollywood, pusat hiburan dunia, dengan semua kilau glamornya,
hangus seolah-olah Allah menurunkan api neraka untuk membungkam
kesombongan manusia.
Siapa yang bisa melawan kehendak Allah? Amerika, dengan teknologi
canggihnya, dengan Trump yang pongah menjanjikan neraka bagi Gaza dan
Timur Tengah, dipermalukan oleh satu peristiwa yang tak pernah mereka
duga. Belum 10 hari berlalu sejak ancamannya, Los Angeles—pusat megah
kebanggaan mereka—menjadi abu. Ini adalah pesan keras:
Allah tidak pernah lalai terhadap doa mereka yang tertindas.
Ingatlah firman Allah:
“Dan kebun-kebun serta harta benda mereka ditimpa tiupan angin yang
kencang, yang padanya ada api sehingga terbakar.”
(QS. Al-Baqarah: 266)
Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang penuh dengan godaan harta,
pangkat, dan kedudukan, sering kali kita lupa pada sesuatu yang jauh lebih
bernilai—keberkatan dan keberadaan seorang pemimpin yang membimbing kita menuju
jalan yang lurus. Kisah ini bukan hanya sebuah cerita dari sejarah, tetapi
sebuah cerminan tentang bagaimana manusia, baik di masa lalu maupun sekarang,
sering kali terjebak dalam ilusi dunia yang fana.
Cerita ini membawa kita kembali ke saat pasukan Islam meraih
kemenangan besar di Peperangan Hunayn, di mana harta rampasan perang
melimpah ruah. Namun, di tengah euforia kemenangan, muncul perasaan tidak puas
hati di kalangan para Ansar—golongan setia yang telah mengorbankan segalanya
demi Nabi dan Islam. Mereka merasa dilupakan ketika harta rampasan perang
diberikan kepada golongan yang baru memeluk Islam. Perasaan ini, meskipun
difahami secara manusiawi, mencerminkan cabaran terbesar manusia sepanjang
zaman: memilih antara dunia yang sementara atau sesuatu yang kekal dan
bermakna.
Ketika suara deru motor memecah malam, apa yang sebenarnya kita dengar?
Hiburan sesaat? Atau potret nyata generasi yang kehilangan arah? Dalam diskusi yang tajam ini, isu balap liar didekati dari sudut pandang
yang mendalam: bagaimana aktivitas ini mencerminkan krisis nilai, dan
bagaimana masyarakat, agama, serta individu dapat mengambil peran dalam
mengatasinya.
Sejarah membuktikan bahwa manusia selalu tertarik pada kecepatan dan
perlombaan, dari zaman kuda dan unta hingga era teknologi canggih. Namun,
perbedaan mencolok muncul ketika aktivitas ini melanggar batas moral dan
hukum, merugikan orang lain, serta membawa risiko besar terhadap
keselamatan. Dalam tradisi Islam, perlombaan dianjurkan hanya ketika ia
melatih ketangkasan atau memiliki manfaat nyata. Balap liar, sayangnya,
sering kali hanya menawarkan kehancuran dan penyesalan.
Apa yang terjadi ketika dunia yang kaya, penuh kemewahan, dan sombong akan
kekuatannya, akhirnya ditantang oleh sesuatu yang tak terlihat?
Los Angeles—pusat hiburan dan kekayaan dunia—baru-baru ini menjadi
saksi kedahsyatan sebuah kekuatan yang jauh di luar kendali manusia:
angin kencang yang membawa api. Dalam sekejap, ratusan ribu rumah
mewah, gedung pencakar langit, dan kendaraan-kendaraan bernilai miliaran
dolar musnah menjadi abu. Sebuah peristiwa yang membuat kita
bertanya-tanya:
Apakah ini hanya kebetulan, atau pesan langsung dari langit?
"Dan Kami timpakan angin kencang yang membawa api kepada mereka, hingga
negeri mereka terbakar." (QS. Al-Baqarah: 266)
Sebat Khalwat di Tempat Umum: Apakah Ini Sesuai Syariat?
Hukuman sebat terhadap pelaku zina memiliki aturan ketat dalam Islam, tetapi bagaimana dengan khalwat? Apakah syariat membenarkan pelaksanaan hukuman di depan umum? Dalam tulisan ini, dibahas dengan jelas bahwa menyebat pelanggar khalwat di khalayak ramai bukan hukum Allah dan Rasul-Nya, melainkan keputusan penguasa yang berada di bawah takzir. Apakah Anda yakin ini cara yang tepat, atau justru melanggar prinsip syariat? Mari kita telusuri lebih dalam.
Hukum sebat tanpa mencederai terhadap penzina memang terdapat dalam Al-Qur'an dan Al-Sunnah. Itupun dengan syarat dan peraturan ketat yang ditetapkan. Kasus tersebut harus disaksikan oleh empat orang saksi yang terpercaya yang benar-benar menyaksikan kemaluan laki-laki masuk ke dalam faraj perempuan yang terlibat. Dengan kata lain, hampir mustahil untuk kita menemukan pasangan berzina yang membiarkan empat orang saksi yang baik menonton perzinaan mereka kecuali pasangan tersebut memang pejuang zina secara terbuka.