KEKUATAN HIDUP YANG SERING KITA LUPAKAN

Tadzkirah Ramadhan 2026:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Apa yang sebenarnya menjadi kekuatan hidup seorang manusia?

Harta? Jabatan? Pengaruh? Atau pujian manusia?

Kita hidup di zaman di mana orang berlomba-lomba ingin dipuji. Ingin diakui. Ingin dihargai. Bahkan kadang tanpa sadar, hati kita lebih sibuk mencari penghargaan manusia daripada mencari keridhaan Allah.

Padahal… Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar.

Hidup ini tidak akan kuat kalau tidak dimulai dengan memuja dan memuji Allah.

Dalam audio ini, dijelaskan dengan sangat menyentuh bagaimana Surah Al-Fatihah — surah yang kita baca minimal 17 kali sehari — ternyata mengajarkan fondasi hidup yang sering kita lupakan.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin…”

Kalimat yang sering kita ucapkan. Tapi apakah hati kita benar-benar merasakannya?
Apakah kita benar-benar menjadikan pujian kepada Allah sebagai pusat kehidupan kita?

Ketika hati kosong dari pujian kepada Allah, ia akan mencari sesuatu untuk dipuja: manusia, tokoh, kekuasaan, bahkan diri sendiri. Dan di situlah banyak manusia mulai tersesat tanpa sadar.

HUBUNGAN HAMBA DAN ALLAH: TAUHID DALAM IBADAH DAN DOA

Tadzkirah Ramadhan 2026:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Pernahkah kita benar-benar memahami apa yang kita baca setiap hari dalam shalat? Setiap rakaat kita mengulang kalimat yang sama. Lisan kita lancar membacanya. Tapi… sudahkah hati kita benar-benar merasakannya?

Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Kalimat ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah janji. Ia adalah pengakuan. Ia adalah sumpah setia seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam audio ini, dijelaskan dengan sangat menyentuh tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah sebenarnya dibangun di atas dua perkara besar: Tauhid dalam ibadah & Tauhid dalam memohon pertolongan

Kita sering merasa sudah bertauhid. Tapi saat susah, ke mana hati kita berlari lebih dulu? Saat takut, siapa yang pertama kali kita gantungi harapan? Saat terhimpit masalah, siapa yang benar-benar kita yakini mampu menyelamatkan?