APAKAH KITA BENAR-BENAR MERINDUKAN RAMADHAN

Tadzkirah Ramadhan:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Apakah kita benar-benar merindukan Ramadhan… atau hanya sekadar melewatinya setiap tahun?

Setiap kali Ramadhan datang, kita sibuk dengan jadwal berbuka, tarawih, sahur, bazar, dan berbagai persiapan lainnya. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri…

Apa sebenarnya yang kita rindukan dari Ramadhan? Apakah kita merindukan rahmatnya? Ataukah hanya suasananya? Apakah kita merindukan ampunan Allah? Ataukah sekadar momen kebersamaannya?

Dalam audio ini, dijelaskan dengan sangat jernih dan menyentuh bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan yang berbeda secara kalender. Langitnya sama. Udaranya sama. Mataharinya sama.

Yang membuatnya luar biasa adalah rahmat Allah yang turun di dalamnya. Tapi rahmat itu tidak otomatis kita dapatkan.

Seperti hujan yang turun dari langit… hanya hati yang siaplah yang bisa menadahnya.

Audio ini akan membuat kita berpikir ulang tentang cara kita menyambut Ramadhan. Tentang makna puasa yang sesungguhnya. Tentang keluasan Islam yang penuh rahmat, bukan agama yang menyulitkan.
Tentang bagaimana syariat hadir untuk menyelamatkan manusia, bukan membebani.

Mungkin selama ini kita berpuasa, tapi belum benar-benar memahami ruhnya. Mungkin kita sudah berkali-kali masuk Ramadhan… tapi keluar tanpa perubahan.

PERMOHONAN YANG PALING KITA BUTUHKAN

Tadzkirah Ramadhan 2026:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Dalam hidup ini, apa sebenarnya yang paling kita butuhkan? Uang? Kesehatan? Jabatan? Anak yang sukses? Atau hidup yang tenang?

Kita sering berdoa meminta banyak hal kepada Allah. Rezeki yang luas. Urusan yang dipermudah. Masalah yang diselesaikan. Impian yang tercapai. Semua itu penting.

Tapi tahukah kita… ada satu doa yang Allah ajarkan untuk kita ulang setiap hari, bahkan minimal 17 kali sehari? Ihdinash-shirathal mustaqim. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”

Dalam audio ini dijelaskan dengan sangat menyentuh bahwa hidayah adalah permohonan terbesar seorang insan. Bukan sekadar tahu mana yang benar, tetapi diberi kemampuan untuk mencintai kebenaran, mengamalkannya, dan istiqamah di atasnya.

Berapa banyak orang berilmu, tapi tidak mendapat hidayah untuk mengamalkan ilmunya? Berapa banyak orang punya kesempatan berbuat baik, tapi hatinya tidak tergerak? Berapa banyak yang merasa sudah benar… padahal tanpa sadar sedang tersesat?

Kita mungkin merasa sudah tahu arah hidup kita. Tapi yang benar-benar tahu ujung perjalanan kita hanyalah Allah. Tanpa hidayah, hidup ini hanya berjalan… Dengan hidayah, hidup ini punya arah.

KEKUATAN HIDUP YANG SERING KITA LUPAKAN

Tadzkirah Ramadhan 2026:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Apa yang sebenarnya menjadi kekuatan hidup seorang manusia? Harta? Jabatan? Pengaruh? Atau pujian manusia?

Kita hidup di zaman di mana orang berlomba-lomba ingin dipuji. Ingin diakui. Ingin dihargai. Bahkan kadang tanpa sadar, hati kita lebih sibuk mencari penghargaan manusia daripada mencari keridhaan Allah.

Padahal… Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar. Hidup ini tidak akan kuat kalau tidak dimulai dengan memuja dan memuji Allah.

Dalam audio ini, dijelaskan dengan sangat menyentuh bagaimana Surah Al-Fatihah — surah yang kita baca minimal 17 kali sehari — ternyata mengajarkan fondasi hidup yang sering kita lupakan.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin…”

Kalimat yang sering kita ucapkan. Tapi apakah hati kita benar-benar merasakannya? Apakah kita benar-benar menjadikan pujian kepada Allah sebagai pusat kehidupan kita?

Ketika hati kosong dari pujian kepada Allah, ia akan mencari sesuatu untuk dipuja: manusia, tokoh, kekuasaan, bahkan diri sendiri. Dan di situlah banyak manusia mulai tersesat tanpa sadar.

HUBUNGAN HAMBA DAN ALLAH: TAUHID DALAM IBADAH DAN DOA

Tadzkirah Ramadhan 2026:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Pernahkah kita benar-benar memahami apa yang kita baca setiap hari dalam shalat? Setiap rakaat kita mengulang kalimat yang sama. Lisan kita lancar membacanya. Tapi… sudahkah hati kita benar-benar merasakannya?

Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Kalimat ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah janji. Ia adalah pengakuan. Ia adalah sumpah setia seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam audio ini, dijelaskan dengan sangat menyentuh tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah sebenarnya dibangun di atas dua perkara besar: Tauhid dalam ibadah & Tauhid dalam memohon pertolongan

Kita sering merasa sudah bertauhid. Tapi saat susah, ke mana hati kita berlari lebih dulu? Saat takut, siapa yang pertama kali kita gantungi harapan? Saat terhimpit masalah, siapa yang benar-benar kita yakini mampu menyelamatkan?